Amnesty International: Taliban Siksa dan Bantai Pria【114 ratus musik keluarga】

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Siaran langsung skor sepak bola olahraga

Penduduk desa mengatakan mereka melarikan diri ke pegunungan ketika pertempuran antara pasukan pemerintah dan petempur Taliban semakin sengit.

Taliban terkenal karena aksi brutal mereka selama berkuasa di Afghanistan dengan merampas hak-hak perempuan dan etnis minoritas, sebelum mereka digulingkan oleh pasukan koalisi yang dipimpun AS pada 2001.

-

Amnesty meminta PBB untuk menyelidiki dan melindungi mereka yang dalam bahaya.

Sejumlah saksi mata memberikan laporan mengerikan tentang pembunuhan yang terjadi pada awal Juli di provinsi Ghazni.

Dalam konferensi pers setelah pendudukan Kabul, Taliban berjanji tidak akan melancarkan serangan balas dendam terhadap siapa pun yang bekerja dengan pasukan AS, dan juga akan memberikan hak-hak kepada perempuan di bawah hukum syariah Islam.

Total enam orang diduga ditembak, beberapa di kepala, dan tiga disiksa sampai mati.

Sejak mengambil alih ibu kota Afghanistan, Kabul, pada hari Minggu lalu (15/08), Taliban telah berusaha menampilkan citra yang lebih moderat.

"Kemarin sore, teman saya cerita bahwa dia dan istrinya mau kabur dari Kabul. Ketika di Bandara Internasional Hamid Harzai, mereka ketahuan [sebagai] orang Hazara.

Namun Amnesty mengatakan insiden tersebut adalah "indikator mengerikan" dari pemerintahan Taliban.

"Tapi kita tidak percaya Taliban benar-benar berubah dan kami (orang-orang Hazara) khawatir dan takut kalau Taliban bentuk pemerintahan.

"Taliban memukul dia di seluruh badan sampai hitam biru. 'Yang lain bisa izin pergi tapi kamu tidak akan bisa pergi karena kamu Hazara'. Taliban bilang begitu ke teman saya," ujar Musa, yang bekerja sebagai wartawan saat masih di Afghanistan.

Komunitas Hazara adalah kelompok etnis terbesar ketiga di Afghanistan.

Sekretaris Jenderal Amnesti Agns Callamard mengatakan: "Kebrutalan pembunuhan ini adalah pengingat akan catatan masa lalu Taliban, dan indikator mengerikan dari apa yang mungkin akan dibawa oleh pemerintahan Taliban."

Menurut keterangan saksi mata, seorang laki-laki dicekik dengan syalnya sendiri dan otot lengannya dipotong. Satu orang lain diberondong peluru.

Musa, yang sejak beberapa tahun lalu berstatus pengungsi di Indonesia, mengaku belum bisa memprediksi apakah Taliban benar-benar berubah dan memegang janji mereka setelah kembali menguasai Afghanistan.

"Pembunuhan yang disengaja ini adalah bukti bahwa etnis dan agama minoritas tetap berada dalam bahaya di bawah pemerintahan Taliban di Afghanistan."

Simak juga video 'Taliban Buka Pintu Hubungan Internasional, Tapi...':

"Pada saat konflik, semua orang mati, tidak peduli punya senjata atau tidak. Ini waktunya perang," kata seorang petempur.

Seorang saksi mata mengatakan mereka bertanya kepada para anggota Taliban mengapa mereka melakukan kebrutalan seperti itu.

Namun sebuah dokumen PBB memperingatkan bahwa petempur Taliban telah pergi dari pintu ke pintu untuk mencari orang-orang yang bekerja untuk pasukan NATO atau pemerintah Afghanistan sebelumnya.

Mayoritas dari mereka menganut Islam Syiah dan sudah sejak lama menghadapi diskriminasi dan persekusi di Afghanistan dan Pakistan yang didominasi Islam Sunni.

Taliban baru-baru ini "membantai" dan secara brutal menyiksa beberapa warga etnis minoritas Hazara di Afghanistan, kata kelompok hak asasi manusia Amnesty International.

Seorang warga Afghanistan, Sazawar Muhammad Musa, mengungkapkan sebelum Taliban menguasai Kabul dan masih ada perang, Taliban akan langsung membunuh orang Hazara.

Ia menambahkan bahwa layanan telepon seluler telah terputus di banyak daerah yang telah direbut oleh Taliban, sehingga informasi tentang pembunuhan itu tidak bocor sampai sekarang.

Dalam laporan yang diterbitkan pada hari Kamis (19/08), Amnesty mengatakan sembilan orang Hazara tewas antara tanggal 4 dan 6 Juli di Distrik Malistan, Provinsi Ghazni timur.

"Khawatirnya mereka agak berubah karena mau mendapatkan kepercayaan komunitas internasional," lanjutnya.

Musa, di satu sisi, berharap Taliban berubah .

Baca juga:

Organisasi hak asasi manusia itu mewawancarai saksi mata dan meninjau bukti foto setelah pembunuhan.

EPATaliban sudah berjanji tidak akan mengincar orang-orang Afghanistan.

[Gambas:Video 20detik]

"Mereka langsung menembak jika bertemu orang Hazara tanpa bertanya apapun. Alasan mereka, orang Hazara patut dibunuh," kata Musa kepada jurnalis BBC News Indonesia, Silvano Hajid Maulana.

Ketika beberapa dari mereka kembali ke Desa Mundarakht untuk mengambil makanan, mereka berkata Taliban telah menjarah rumah mereka dan menunggu mereka. Secara terpisah, beberapa pria yang melewati Mundarakht dalam perjalanan pulang ke dusunnya juga dihadang.